Kegiatan


Bunuh Diri Adalah Virus Ganas Dalam Darah Daging Terorisme

Singa mungkin binatang yang paling buas di muka bumi ini. Kita bisa melihat pada tayangan Animal Planet atau Wild Animal, betapa singa mampu membunuh gajah, kerbau, jerapah, bahkan kuda nil.  Apabila singa tidak mampu bekerja sendiri untuk melumpuhkan mangsanya, temannya akan beramai-ramai membantu secara keroyokan. Hanya dalam hitungan menit tubuh binatang yang lebih besar mampu dicabik-cabik. Fakta yang tidak kalah menarik, justru yang dominan menjadi penyerang adalah singa betina. Artinya, singa betina jauh lebih agresif dan bekerja lebih koorporatif dibandingkan dengan singa jantan. Singa jantan akan tampil bak raja manakala target sudah dilumpuhkan oleh sang betina
 
Binatang buas lain seperti harimau, beruang, serigala adalah contoh lain binatang sangat sadis dan buas.  Akan tetapi hewan-hewan itu tidak pernah memakan anaknya sendiri. Mereka sangat protektif melindungi anaknya. Bahkan mereka lebih rela mati dari pada anaknya diganggu. Mereka akan sangat sensitif saat sedang memiliki anak. Perhatikan tayangan Nat Geo Wild, ketika singa memangsa baboon (kera besar) yang tengah beranak, hanya induk yang dimangsa, sementara anak baboon dilindunginya.
 
Itulah adalah manisfestasi kasih sayang induk binatang  kepada anak.  Bahkan bukan hanya kepada anak kandung tetapi juga ke anak dari jenis binatang lain yang nyata-nyata berbeda spesies. Maka benar kata pepatah : “Tidak ada binatang yang membunuh dan memakan anaknya sendiri”, kecuali mungkin jika binatang itu dalam kondisi sakit ingatan atau gila.
 
Bisakah Harkat Manusia di Bawah Binatang?
 
Setelah melihat karakter kebuasan binatang pemangsa yang ternyata lembut dan penyayang terhadap anaknya, bisakah manusia lebih buas dari binatang? Ternyata jawabnya “bisa”. Saya akan menyodorkan fakta bagaimana pandangan Anda melihat kasus bom bunuh diri di Surabaya yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu? Bukankah kedua orang tua itu telah melakukan kebiadaban yahg sempurna sekali ketika mengajak anak-anaknya yang tak berdosa dan yang seharusnya dia sangat sayangi untuk ikut mengakhiri kehidupan mereka secara berama-sama? Bukankah dia telah membunuh darah daging sendiri yang tidak dilakukan oleh binatang buas sekalipun? Kegilaan manusia seperti apakah ini? Kita manusia normal pasti tercengang, kok bisa? kok tega?
 
Padahal jelas sekali  bagi seluruh kehidupan manusia, tidak ada ajaran agama apapun,  ayat dalam kitab suci apapun, rujukan hadist dan fikih manapun dalam ajaran Islam yang membenarkan seseorang melakukan pembunuhan, apalagi bunuh diri. Tapi, lain soal apabila dalil agama tersebut diterjemahkan dengan cara yang  salah dan dengan cara menafsirkannya dalam sudut pandang yang dangkal.  Di situlah bencana kehancuran peradaban dan kerusakan moral umat beragama dimulai.
 
Pada saatnya akan terjadi sesuatu yang benar menjadi salah dan yang salah akan menjadi benar. Sama halnya bila suatu ketika kita mencoba menerjemahkan sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dengan menggunakan software transtool, misalnya. Maka setelah dicari dengan mesin pencari, padanan bahasanya bisa jadi arti dan maknanya menjadi rancu, salah, dan bahkan sangat lucu. Dalam kasus ini, penulis mempunyai pengalaman. Seorang staf penulis tahun 2007 diminta mengirimkankan (via email) nama pelaku teror ke lembaga sekolah  peningkatan kapasitas , JCLEC, Semarang, yang bernama Ayib Raksa Dimeja.  Karena harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maka data dan dukumen tersebut diterjemahkan langsung dengan  transtool. Apa yang terjadi? Nama Ayib Raksa Dimeja (nama  orang)  diterjemahkan menjadi “Ayib Mercure on the Table“.
 
Contoh kekeliruan terjemahan dan  pemahaman dalam agama akan menemukan kondisi yang sama.  Dia akan memberikan dampak yang lebih parah dan buruk. Karena kata dengan makna  “larangan” bisa berarti “pembenaran” .   Ada kalimat yang selalu digunakan oleh kelompok radikal terorisme yang  dijadikan logika pembenaran, seperti  “Faqtuluu Anfusakum…” yang terjemahan bebasnya “Maka bunuhlah dirimu”.  Secara ekslusif kalimat ini akan dimaknai sebagai perintah kepada  seseorang untuk bunuh diri. Padahal  yang dimaksud kalimat itu  adalah  “membunuh hawa nafsu”.
 
Ada juga pendapat dari beberapa tasawuf yang mengatakan: “Mauta Qoblalmaut….” yang bila diterjemahkan secara bebas menjadi “Matilah sebelum datangnya kematian“. Pada arti sesungguhnya adalah “sebelum ajal menjemput, maka Anda  sudah harus mematikan hawa nafsu kita sendiri”. Ada  juga ayat yang mengakatakan “bunuhlah dirimu sebelum membunuh”. Ini lebih tidak masuk akal lagi.  Kalau engkau bunuh diri bagaimana caranya engkau bisa membunuh orang lain.  Makna sejatinya adalah  bahwa  “engkau harus bunuh dulu hawa nafsu sebelum punya keinginan untuk membunuh”.  Artinya, Allah sangat melarang dan membenci  orang yang bunuh diri dan bunuh diri bukanlah jihad. Orang bunuh diri tempatnya adalah di neraka Jahanam.
 
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: Ayat 29). Ayat ini sangat kontradiktif dengan propaganda ideologis yang sangat gencar dilakukan teroris yang  mengatakan pelaku bom bunuh diri itu masuk surga. Surga yang mana?  Padahal bunuh diri itu tempatnya di lapisan neraka paling bawah.
 
Jepang: Budaya Bunuh Diri demi Kehormatan Bangsa
 
 
Karena binatang tidak diciptakan dan dilengkapi Allah Swt dengan perasaan, hati nurani serta akal budi, tidak ada tema putus asa dan kecewa pada para binatang. Tidak ada perasaa “bete”, apalagi “galau”.  Yang ada hanyalah perasaan takut, senang, bahagia, berani, agresif, dan marah. Sehingga belum pernah kita mendengar berita ada binatang  bunuh diri. Yang ada hanyalah binatang membunuh, saling bunuh karena perkelahian berebutan wilayah dan makanan, atau memangsa dan  dimangsa untuk keperluan konsumsi. Binatang sangat menyayangi tubuh mereka dan anak mereka sendiri.
 
Manusia juga mengenal bunuh diri  sebagai upaya memperoleh kebanggaan? atau ada juga yang menganggap bunuh diri sebagai tujuan? Jawabnya kedua-duanya ada. Teroris bunuh diri karena mati adalah sebuah tujuan. Tapi ada juga bunuh diri sebagai manifestasi pengabdian.
 
Mungkin tradisi bunuh diri sebagai suatu kehormatan hanya ada pada manusia. Hanya ada dalam peradaban untuk mengekspresikan perasaan kecewa, galau, penderitaan dan putus asa. Ada juga karena pengabdian pada negara dan bangsa. Di masa kekaisaran Jepang sampai era perang dunia II, tradisi bunuh diri prajurit (samurai) sebagai respon pengabdian dan kesetiaan yang sangat tinggi kepada kekaisaran. Prinsip bahwa kehormatan negara berada di atas segala-galanya termasuk kehidupannya sendiri. Harkat martabat kaisar dari waktu ke waktu  senantiasa masih dijunjung tinggi. Lebih baik mati di tangan sendiri dari pada mati di tangan musuh.
 
Ada beberapa prinsip bunuh diri orang Jepang. Pertama,  bila engkau melanggar aturan hukum atau aturan kekaisaran atau memalukan, maka kamu harus mati dengan cara tusukan pedangmu (katana) searah dari atas kepala menuju perutmu, dan kemudian kau putar gagang pedangmu agar isi perut dan organ tubuh dalammu terkena dengan merata, sehingga kematian kau peroleh dengan segera.
 
Cara bunuh diri seperti itu, kalau merobek perut dari sisi kiri lalu menariknya kekanan disebut “Ichimonji“. Tapi menusuk langsung ke ulu hati dan menariknya ke bawah sampai ke pusar disebut “Jumonji“. Bunuh diri dengan cara-cara seperti ini di Jepang disebut “Seppuku“. Jaman kekaisaran seorang algojo yang disebut “Kaishakunin” yang kemudian bertugas memenggal kepala mayat dan memposisikan kepala seperti dipegang oleh si terpenggal. Di Jepang istilah Seppuku lebih populer dari pada “Harakiri”, walau sesungguhnya memiliki arti yang sama.  Dalam beberapa kasus pelaku akan meneriakan “Tenno Heika Banzai” atau hidup kaisar untuk menunjukan kesetiaannya pada negara.
 
Kedua, Angkatan Udara Jepang pada masa perang dunia II melakukan Seppuku dengan menabrakan pesawatnya ke kerumunan musuh. Bunuh diri seperti ini disebut ” Kamikaze”. Ketiga, bunuh diri ala Angkatan Laut dengan memeluk torpedo yang diluncurkan ke arah musuh yang disebut ”Ningen Gtorai”.
 
Pada masa lalu orang Jepang yang bunuh diri demi negara (kekaisaran) namanya akan dicatat dalam sebuah kuil yang bernama ”Yasukuni” yang berarti tempat persembahan bangsa damai. Tercatat 2.466.536 orang pernah bunuh diri dan namanya diabadikan di kuil itu.
 
Virus itu Bernama Bunuh Diri
 
Menjalankan agama pro kekerasan dan bunuh diri adalah suatu kebodohan. Tidak berlebihan pendapat ini. Banyak pengalaman membuktikan bahwa para pemimpin atau amir atau manajer kelompok radikalis rata-rata matinya karena diserang oleh otoritas pemerintahan saat penangkapan, bukan karena bunuh diri. Atau mereka mati karena dieksekusi menjalani keputusan pengadilan. Mereka mati ditembak di depan regu tembak. Rasanya belum pernah ada yang mati karena meledakan diri demi kemenangan atas nama idiologinya.
 
Imam Samudera adalah contoh yang paling nyata tentang betapa pengecutnya sang amir. Dia memerintahkan jaringannya untuk menyerang dengan mengorbankan dirinya. Memerintahkan untuk nyata-nyata “bunuh diri”, tapi dia sendiri sangat takut akan kematian dan bunuh diri.
 
Tentu masih diingat oleh khalayak lima pesan Imam Samudra yang diumumkan secara live oleh beberapa stasiun televisi saat di pengadilan yang isinya antara lain; 1). Hancurkan musuhmu dengan segala cara termasuk dengan “mengorbankan diri”  2).  Rampas harta benda musuh dengan merampok dan”fai” 3). Berbohong terhadap musuh walau dalam kesaksian di persidangan.  4). Bermegah diri di hadapan musuh dengan bersikap keras. 5). Propaganda bohong terhadap musuh untuk membentuk opini.
 
Iimbauan Bahrun Naim juga hampir serupa yang menyatakah bahwa amaliyah itu adalah perintah Rasullullah SAW, dan  iimbauannya nomor 4 tentang perintah untuk membunuh. Begitupun dengan fatwa Osama bin Ladeen, atau Abu Bakar al Bagdadi yang lebih parah lagi. Sampai di tempat persembunyiannya di lorong-lorong bawah tanah kota Raqah, al Bagdadi memerintahkan anak buahnya untuk menyerang dan bunuh diri, sementara dia bersembunyi. Bahkan konon al Bagdadi beberapa kali merubah penampilan perjuangannya sedemikian rupa agar tidak terlacak. Sekali lagi, itu dia serukan dari lorong lorong bawah tanah yang jauh dari sasaran peluru.
 
Fakta dan fenomena bunuh diri kelompok radikal terorisme amat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para Samurai dan Bushido di Jepang saat mereka telah ditawan musuh dan melakukan seppoku atau harakiri demi nama baik bangsa dan harga dirinya.
 
Artinya, teroris tetaplah teroris. Sejatinya mereka adalah orang yang disesatkan nalar logika dan nalar agamanya oleh segelintir orang yang kadang takut dengan kematian. Orang-orang yang memerintahkan untuk mati bunuh diri sementara mereka sendiri sangat menghindari dan takut akan kematian itu. Kalau memang benar dalil mereka (para amir itu), maka merekalah yang seharusnya mati bunuh diri duluan untuk memberikan contoh keberanian sebagai syuhada. Bukan dia yang memerintahkan  anak remaja tanggung dan orang dewasa yang tengah galau dan putus asa itu. Setelahnya, silahkan ceritakan bagaimana rasanya disambut bidadari.
 
Ingatlah, bunuh diri adalah virus yang ditebar para amir, motivator dan propagandis terhadap teroris-teroris muda dan putus asa serta penuh dengan kebodohan nalar agama. Pembenaran melalui dalil dengan tafsir salah adalah bungkus virus yang seolah obat penenang. Padahal sejatinya para anak-anak muda telah meminum virus yang ganas.
 
 
Semoga bermanfaat
 
*) Penulis adalah Irjen. Pol. Drs. Hamidin, Deputi bidang Kerjasama Internasional BNPT